bitcoin

bitcoinker

Tuesday, December 14, 2010

Kismis dan Manfaatnya

Kismis adalah buah anggur yang dikeringkan. Penggunaan kismis (vitis Vinifera) dalam berbagai tradisi dan budaya mungkin berbeda antara satu dan lainnya. Kismis sangat manis yang disebabkan kepekatan gula yang tinggi dan bila didimpan terlalu lama, maka gulanya akan membentuk kristal di dalam buahnya.

Sebanyak 60% berat kismis terdiri dari gula, separuhnya fruktosa, dan separuhnya lagi glukosa. Kismis sangat tinggi akan kandungan antioksidannya dibandingkan dengan buah prune dan aprikot. Kismis sendiri telah lama digunakan sebagai sumber diet untuk mendapatkan acid lemak dan tokoferol sebagai antioksidan.

Beberapa khasiat dan kegunaan kismis sebagai berikut:

1. Melindungi hati
2. Memperbaiki sirkulasi (termasuk bagi kondisi seperti varicose veins, bengkak, lebam (bruise), dan pandangan kabur)
3. Melancarkan pembuangan air besar
4. Memperbaiki tone dan kekenyalan kulit
5. Melawan bakteria mulut yang menyebabkan sakit gigi





Selain itu, kismis sendiri mampu menurunkan kadar radikal bebas. Radikal bebas merupakan senyawa yang dapat merusak sel dan membuat tubuh sulit untuk kembali bugar setelah berolahraga. Fakta ini terungkap dalam pertemuan tahunan American College of Nutrition. Para peneliti mempelajari delapan atlit triathlon yang berkompetisi dalam dua minggu yang terpisah.

Pada satu perlombaan, mereka diberi makan kismis dan pada perlombaan lainnya tidak. "Kismis secara signifikan mengurangi jumlah kerusakan sel pada tubuh atlit akibat radikal bebas" kata pimpinan utama penelitian ini, Gene Spiller, Ph.D. Beliau menyarankan Anda mengkonsumsi segenggam kismis sebelum berolahraga berat.

(rileks)

Indonesia Pilih 4G LTE Ketimbang WiMAX?

Sejumlah operator GSM telah mengantisipasi implementasi dari 4G LTE (long-term evolution) sebagai generasi keempat dari standar nirkabel selular. Bahkan, beberapa operator telah menggelar uji coba LTE di Tanah Air.

Selain LTE, 4G juga menawarkan teknologi lain bernama WiMAX (Worldwide Interoperability for Microwave Access) di Indonesia. Jika LTE masih tahap uji coba, WiMAX sudah digelar secara resmi oleh Sitra WiMAX, unit perusahaan First Media, sejak bulan Juni silam.

Lalu, teknologi 4G yang mana yang cocok untuk Indonesia? Keduanya bisa berjalan bersamaan. Dalam perjalanannya, pengguna bisa menentukan teknologi mana yang lebih cocok dan terbaik dan mampu memenuhi kebutuhan mereka.

Jika sesuai jadwal, LTE diperkirakan akan matang sekitar satu-dua tahun mendatang. Menurut Heru Sutadi, anggota Badan Regulasi Teknologi Indonesia (BRTI), ada beberapa isu teknis yang saat ini menjadi kendala bagi regulator untuk menggelar teknologi 4G, terutama frekuensi.

"Dari uji coba yang sudah berjalan, alokasi frekuensi yang dipakai adalah di 2.3GHz. Nah, ini masih dikaji dan dievaluasi. Belum tahu apakah nantinya benar-benar akan menggunakan sisa frekuensi di 2.3GHz," kata Heru pada wartawan di sela acara demonstrasi LTE Ericsson di kantornya, Jakarta, Selasa 14 Desember 2010.

"Nanti kalau tidak cocok, bisa di-switch ke beberapa frekuensi lain, misalnya ke 2.6GHz. Karena teknologi LTE cukup fleksibel," tandasnya. Sayangnya, spektrum frekuensi 2.6GHz saat ini masih dikuasai Indovision.

"Namun, meski dikuasai, bukan berarti frekuensi tersebut tidak menjadi kandidat yang prioritas. Kami tunggu hasil evaluasi nanti," imbuh Heru.

Ada beberapa kandidat frekuensi lain yang bisa dialokasikan untuk LTE, termasuk 1.8GHz, 900MHz, dan 700MHz. Untuk 1.8GHz, dimungkinkan jika dilakukan refarming teknologi 2G dan 3G sebelumnya, hanya kocek investasinya yang keluar akan jauh lebih besar.





Sedangkan frekuensi 700MHz masih ditempati oleh sejumlah penyelenggara siaran televisi free to air nasional, yang mana frekuensi tersebut baru bersih pada 2018 setelah semua TV nasional bermigrasi ke kanal TV digital.

Frekuensi manakah yang cocok dialokasikan untuk LTE di Indonesia? Menurut Heru, frekuensi 2.3GHz adalah frekuensi yang paling mungkin. Meski sudah terpakai 30MHz untuk teknologi WiMAX 16.d Sitra WiMAX, operator masih bisa mengoptimalkan sisa frekuensi 60MHz lagi.

"Sebetulnya, alokasi sebesar 20MHz untuk kebutuhan LTE di tahap awal sangat cukup. Itu bukan alokasi yang sedikit. Cuma, ini kan masih dikaji," tutur Heru.

Sebagai perbandingan, India dan China telah menggelar LTE secara komersial lebih dulu di frekuensi 2.3GHz. Teknologi yang dipakai adalah TDD (Time Division Duplex)-LTE. Studi di dua negara tersebut dengan karakter yang mirip dengan Indonesia, menurut Heru, bisa menjadi contoh.

Demikian perkembangan LTE. Bagaimana dengan implementasi WiMAX? Sampai sejauh ini, satu-satunya operator yang menggelar WiMAX di Tanah Air baru Sitra WiMAX yang memanfaatkan teknologi WiMAX 16.d. Kabarnya, First Media menginvestasikan kocek sebesar 350 juta dollar AS untuk mengembangkan layanan Internet nirkabel berkecepatan tinggi berbasis teknologi Wimax hingga 10 tahun ke depan.

Sekadar diketahui, teknologi 4G WiMAX sendiri bisa dibagi tiga bagian generasi, yaitu:
- WiMAX 16.d, atau sering disebut WiMAX nomadic dengan mobilitas terbatas hingga kecepatan 70 Mbps
- WiMAX 16.e, merupakan WiMAX mobile dengan mobilitas tinggi hingga kecepatan 144Mbps.
- WiMAX 16.m, WiMAX mobile dengan mobilitas tertinggi sementara ini hingga kecepatan 1Gbps.

Heru mengatakan, banyak opsi untuk perkembangan 4G WiMAX. Apakah kita tetap mengacu pada teknologi WiMAX 16.d? Transformasi dari 16.d ke 16.e? Atau, biarkan keduanya berjalan bersamaan? Sangat banyak kemungkinan dan pertimbangan. "Sebab itu, kami harus menggodoknya sampai benar-benar matang. Untuk 16.e, siapa vendornya? Kalau baru satu-dua, lelang sulit dilakukan," pungkasnya. (hs)• VIVAnews

Monday, December 13, 2010

Gunung Toba Pemusnah Manusia?

Letusan Gunung Toba yang melontarkan jutaan metrik ton debu volkanik, sulfur, dan partikel-partikel lain ke atmosfir pada 74 ribu tahun yang lalu disebut-sebut menyebabkan penggelapan langit, penurunan suhu global hingga 10 derajat Celcius selama hampir satu dekade dan membinasakan sebagian besar umat manusia.

Ternyata, dari penelitian terbaru, efek cuaca yang disebabkan letusan Toba lebih ringan dan reda relatif lebih cepat dibanding perkiraan yang dibuat oleh pada arkeolog dan klimatolog sebelumnya. Manusia yang mengalami bencana letusan Toba itu diperkirakan berhasil melewatinya dengan selamat.

Meski dari sejumlah penelitian mengungkapkan bahwa letusan Toba yang kini meninggalkan danau volkanik terbesar di dunia itu menggelapkan dan membekukan dunia, menggunakan data letusan gunung Pinatubo, Filipina tahun 1991, Stephen Self, volkanologis dari Open University, Milton Keynes, Inggris dan Michael Rampino, paleobiologis dari New York University, menyatakan bahwa efek pendinginan suhu akibat letusan Toba hanya mencapai 3 sampai 5 derajat saja.

Berdasarkan data yang didapat dari situs arkeologi di India, tim antropolog University of Oxford, Inggris, yang dipimpin oleh Michael Petraglia menyebutkan bahwa manusia yang tinggal tidak jauh dari zona letusan justru malah berhasil melewati bencana tersebut dengan mudah.

Untuk mencari titik terang, tim peneliti yang dipimpin oleh Claudia Timmreck, dari Max-Planck Institute for Meteorology di Hamburg, Jerman membuat pemodelan yang mampu menggambarkan lebih realistis (meski metode ini juga memiliki beberapa kekurangan) apa yang terjadi saat Toba meletus.

Peneliti fokus ke bagaimana partikel sulfate aerosol yang terbentuk di stratosfir akibat letusan sulfur dioksida yang mengandung gas mendinginkan atmosfir dengan cara memantulkan sinar matahari.






Dari data yang didapat, dan disesuaikan dengan asumsi yang sudah dibuat sebelumnya, diketahui bahwa Toba mengirimkan sekitar 850 juta metrik ton sulfur ke atmosfir. Angka ini 100 kali lebih banyak dibanding setoran gunung Pinatubo ke atmosfir. Dari simulasi juga diketahui bahwa dampak Toba memang hanya menurunkan suhu sebanyak 3 sampai 5 derajat Celcius di seluruh dunia. 

Akan tetapi, konsentrasi sulfur tidaklah padat dan segera hilang dari stratosfir selama 2 sampai 3 tahun saja. Perubahan temperatur secara ekstrim yang terjadi di Afrika dan India hanya berlangsung selama 1 sampai 2 tahun. Di kawasan ini, di tahun pertama suhu turun 10 derajat dan 5 derajat di tahun kedua.

Menurut Timmreck, seperti dikutip dari ScienceMag, 25 November 2010, Toba juga tidak memusnahkan flora dan fauna. Namun Timmreck mengakui, kehidupan di masa-masa tersebut memang sulit.

Michael Petraglia berpendapat, Toba memang bukanlah penyebab utama anjloknya jumlah populasi manusia di era tersebut. Akan tetapi Toba membuat situasi menjadi makin parah. 


Langkah selanjutnya, kata Petraglia, peneliti masih harus melanjutkan hasil temuan simulasi tersebut dengan observasi langsung di kawasan sekitar Toba untuk mengetahui secara lebih akurat dampak lingkungan yang terjadi.
(vivanews)

Samudera Baru akan Lahir di Afrika

Benua Afrika akan menjadi saksi lahirnya sebuah laut yang nantinya diperkirakan akan menjadi samudera baru. Kesimpulan ini diungkapkan oleh sejumlah peneliti dari Royal Society, kelompok ilmiah asal London, Inggris.

Semua diawali dari munculnya keretakan tanah di kawasan Ethiopia tahun 2005. Retakan yang mencapai panjang 60 kilometer itu semakin melebar, mencapai 8 meter dalam 10 hari. Padahal, dalam kondisi normal, dibutuhkan waktu sekitar 230 tahun agar keretakan mencapai lebar 8 meter.

Para geolog, yang melakukan penelitian di Afar, sebuah kawasan terpencil di Ethiopia menyebutkan, retakan ini nantinya akan memecah benua Afrika menjadi dua bagian. Meski begitu, peneliti memperkirakan, terbelahnya benua Afrika ini akan terjadi dalam waktu 10 juta tahun ke depan.

“Ini merupakan hal yang luar biasa,” kata Dr Tim Wright, ketua tim peneliti, yang telah mengamati retakan di Afar selama 5 tahun terakhir, seperti dikutip dari TG Daily, 12 Desember 2010. “Benua ini kini terbelah tepat di bawah kaki kita,” ucapnya.


Retakan di kawasan tersebut disebabkan oleh dorongan bebatuan lunak yang panas, yang berasal jauh dari perut bumi. Besarnya daya dorongan tersebut membuat permukaan tanah di atasnya menjadi merekah.





Yang jadi masalah, sampai saat ini, letusan bawah tanah masih terus terjadi di kawasan itu dan pada akhirnya sepotong kawasan Afrika yakni sebagian Ethopia dan Somalia akan terlepas dari benua tersebut.



Potongan benua ini nantinya akan menjauh dan menyebabkan munculnya selat, laut, dan kemudian akan menjadi samudera.
• VIVAnews

Bahtera Nabi Nuh Dibuat Kembali


Berbagai kontroversi masih mewarnai seputar klaim penemuan bahtera nabi Nuh. Namun, sebuah perusahaan di Kentucky Texas dalam waktu dekat bakal segera kembali membuat kembali bahtera Nabi Nuh dalam ukuran yang persis seperti disebutkan dalam injil.
 
Seperti dikutip dari AP, replika bahtera Nabi Nuh tersebut rencananya akan dibangun di kota Williamstown, Grant County, Kentucky AS. Misinya yaitu untuk menggiatkan roda perekonomian daerah yang dari generasi ke generasi, sangat amat tergantung dengan industri tembakau. 

Ditargetkan, Bahtera Nabi Nuh ini akan menarik hingga 1,6 juta pengunjung. Selain itu, menurut Mike Zovath, Co-Founder Answer in Genesis, adalah untuk mempertebal keimanan masyarakat lokal, tentang kebenaran bencana banjir besar yang terjadi di masa lalu.

Selain itu, kapal yang panjangnya akan mencapai sekitar 150 meter (500 feet) itu juga dibangun untuk memastikan bahwa kapal sebesar itu mampu memuat segala macam jenis pasangan binatang. Oleh karenanya, nantinya bahtera ini juga akan dimuati oleh berbagai pasangan binatang di dalamnya.

Gubernur Kentucky Steve Beshear berteka menyokoong rencana ini dengan memberikan kelonggaran pajak terhadap proyek ini. Sebab, Proyek senilai US$150 juta itu diperkirakan bakal menciptakan 900 lapangan kerja permanen dan dampak ekonomi sebesar US$ 214 juta dalam setahun operasionalnya saja.





Nantinya replika Bahtera Nabi Nuh akan didirikan di lahan seluas 324 hektar di rute jalan antar negara bagian koridor utara -selatan (Interstate 75). 

Beshear mengenyampingkan kemungkinan timbulnya pro dan kontra agama yang bakal menyelimuti proyek tersebut.

"Rakyat Kentucky tidak memilih saya untuk mendebatkan masalah agama. Mereka memilih saya untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Itulah yang sekarang kita lakukan dan akan terus kita teruskan," ujar Gubernur yang tahun depan akan menghadapi pemilu lagi.

Bila konon Nabi Nuh mengerjakan bahtera ini selama lebih dari 100 tahun, di Kentucky, proyek ini diharapkan bakal kelar pada 2014. Bahtera Nabi Nuh terbuat dari kayu itu juga akan dilengkapi dengan taman, museum, teater, dan juga replika menara Babel.

Menurut Carry Summer, Kepala Nehemiah Group, sebuah firma konsultan di sana, diharapkan proyek tersebut akan menggerakkan roda-roda perekonomian daerah itu. Ia memperkirakan, setelah proyek itu kelar, akan banyak restoran, hotel-hotel dan bisnis pariwisata lainnya yang akan muncul.

"Bersama dengan bahtera ini, Saya mengantisipasi adanya pelangi. Dan Di ujung pelangi tersebut akan terdapat pot emas,"ujar hakim Grant County Darrell Link menambahkan.


• VIVAnews

Fosil Bangau Raksasa Ditemukan di Flores

Fosil bangau dengan tinggi sekitar 180 sentimeter ditemukan di Indonesia. Fosil itu ditemukan di Flores, kawasan yang sama dengan penemuan fosil spesies manusia cebol, homo floresiensis yang hidup hingga sekitar 17 ribu tahun lalu.

Seperti diketahui, homo floresiensis merupakan spesies manusia purba yang sangat dekat dengan manusia modern, namun dengan ukuran yang lebih kecil. Ditemukan pertama kali pada 2004, tinggi spesies ini umumnya hanya mencapai 90 sentimeter.

Spesies bangau baru yang ditemukan, diberi nama Leptoptilos robustus dengan tinggi mencapai 180 sentimeter itu berbobot hingga sekitar 16 kilogram. Menurut peneliti, ini menjadikan spesies bangau tersebut sebagai bangau terbesar dan terberat dibandingkan bangau Marabou yang tingginya bisa mencapai 152 sentimeter dan bobot seberat 9 kilogram.

Dengan tinggi 180 sentimeter, bangau yang tinggal di pulau yang sama dengan manusia Flores diperkirakan dapat mengganggu kehidupan manusia tersebut.





“Fosil bangau yang ditemukan berusia di antara 20 hingga 50 ribu tahun,” kata Hanneke Meijer, palaeontologis dari Smithsonian National Museum of Natural History di Washington yang menemukan fosil itu bersama Rokus Due, arkeolog dari National Center for Archaeology di Jakarta, Indonesia.

Sekitar 15 ribu tahun lalu, kata Meijer, seperti dikutip dari UPI, 10 Desember 2010, iklim di Flores berubah dari kering menjadi basah. “Kemungkinan, perubahan iklim ini yang menyebabkan sejumlah spesies di pulau tersebut menjadi punah,” ucap Meijer. (hs)• VIVAnews

back to top