bitcoin

bitcoinker

Thursday, February 17, 2011

Dicari, Standar Kilogram Baru


Berat logam platinum dan iridium yang menjadi standar kilogram internasional mengalami perubahan. Para ilmuwan pun berencana untuk menemukan penggantinya.

Standar kilogram yang disimpan di Sevres, Prancis itu diketahui mengalami perubahan setelah dibandingkan dengan duplikat resminya. Meski disimpan dalam tiga sungkup kaca berbentuk lonceng di lemari besi bawah tanah yang hanya bisa dibuka dengan tiga kunci berbeda yang dipegang oleh tiga orang berbeda, standar itu tetap kehilangan beratnya 50 mikrogram, berat yang setara dengan butiran kecil pasir. Ini berarti standar kilogram tersebut telah gagal menjalankan tugasnya.

Para ilmuwan sepakat, saat ini adalah waktu yang tepat untuk menemukan standar kilogram baru yang berbeda dengan definisi yang berlaku hingga sekarang. Definisi itu berbunyi "suatu unit massa yang setara dengan massa prototipe kilogram internasional".

Menurut Dr. Peter J. Mohr, ahli fisika dari National Institute of Standards and Technology, Gaithersburg, standar kilogram masa depan akan menggunakan dasar konstanta fisika dasar, bukan sebuah benda yang tidak konstan. "Kita menginginkan sesuatu yang tidak berubah sehingga kita mempunyai sistem pengukuran yang stabil," kata Mohr kepada New York Times.








Definisi standar kilogram baru diusulkan berdasarkan konstanta Planck -- konstanta yang disukai oleh ahli fisika kuantum namun belum disepakati tingkat akurasinya. Sebanyak enam tim dari seluruh dunia telah bekerja keras untuk mengukur konstantan Planck sampai ke tingkat ketidakpastian terendah. Akan tetapi hasil kerja keras itu masih belum dapat ditentukan dalam waktu dekat.

Kilogram adalah unit pengukuran terakhir yang masih menggunakan benda yang dibuat manusia sebagai rujukannya. Standar internasional untuk satuan meter sudah tidak digunakan lagi sejak 1960 ketika para ilmuwan mendefinisikan ulang satuan tersebut. Satuan meter yang baru didefinisikan ulang pada tahun 1983 sebagai "jarak yang ditempuh cahaya dalam ruang hampa pada interval waktu 1/299.792.458 detik".

Rencananya, para ilmuwan akan mengajukan penentuan standar serta definisi kilogram yang baru bersama beberapa unit pengukuran lain seperti amper, mol, dan kandela pada acara General Conference of Weights and Measures bulan Oktober nanti.
(nationalgeographic)

Saturday, February 12, 2011

Ke Mars dengan "taksi asteroid"

Studi terbaru menemukan bahwa para penjelajah angkasa di masa mendatang bisa mencapai planet merah Mars dengan "membonceng" asteroid. Mereka akan berkendara di sisi sebelah dalam asteroid.

Mendaratkan pesawat luar angkasa di landasan batu asteroid ditinjau dapat menyiasati masalah utama setiap kali misi menuju Mars, yakni perlindungan dari sinar kosmik ataupun partikel-partikel berenergi tinggi yang banyak berkeliaran dengan kecepatan cahaya di luar angkasa.

Radiasi sinar kosmik membawa efek buruk bagi tubuh manusia. Ia dapat merusak DNA dan juga meningkatkan risiko kanker serta katarak. Penelitian pun mengungkap bahwa sejumlah tertentu radiasi akan membombardir astronaut selama ratusan hari perjalanan mengelilingi Mars akan meningkatkan risiko kanker 1-19 persen.







"Maka ketimbang memusatkan perhatian untuk membangun pelindung yang lebih baik terhadap radiasi, kita perlu memikirkan desain pesawat antariksa yang dapat melompat ke dalam dan ke luar asteroid yang tengah melintas," kata Gregory Matloff, seorang ahli fisika dari New York City College of Technology.

Taksi-asteroid ini membutuhkan luas sekitar 10 meter lebar, sudah cukup untuk memberikan perlindungan yang layak. Sejauh ini telah diketahui lima jenis asteroid yang cocok pada kriteria, dan kelimanya diperkirakan akan melewati Bumi menuju ke Mars sebelum tahun 2100.

Bagaimana pun, teori Matloff masih harus mengkaji lagi berbagai hal dan resiko, sebelum direalisasikan sebagai model baru perjalanan luar angkasa.

(nationalgeographic)

Thursday, February 10, 2011

Naskah peninggalan Tionghoa-Jawa tersebar di seluruh dunia

Naskah-naskah asli warisan kebudayaan Tionghoa-Jawa saat ini tersebar pada sejumlah tempat, baik di nusantara maupun luar negeri.

Woro Mastuti, peneliti naskah dan karya sastra China-Jawa di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, merinci tepatnya naskah berada di kota Jakarta, Depok, Yogya, Solo, dan Surabaya. Di luar negeri, naskah berada di beberapa tempat, seperti Leiden (Belanda), Köln, Berlin (Jerman), dan Paris (Prancis).

Woro telah 10 tahun meneliti naskah kuno China-Jawa ini. Ia menuturkan bahwa ada berbagai faktor yang menyebabkan naskah-naskah ini bisa tersebar di beberapa tempat, "antara lain karena sengaja dibeli dari kolektor, juga bisa karena memang diserahkan atau dihadiahkan pemiliknya pada perpustakaan setempat ketika dirasa mereka tidak mampu menyimpan dan memelihara," kata Woro. "Pemilik itu belum tentu penulis, sebab sifatnya turun temurun," lanjut Woro.

Naskah di luar negeri, khususnya di Leiden, terbawa pada masa pemerintah Belanda di Jawa. Sementara di Berlin, naskah berasal dari seorang kolektor Jerman, yang setelah meninggal dunia, meminta koleksinya ini diboyong oleh perpustakaan Berlin. "Untuk yang di Paris milik pribadi. Dibeli oleh seorang peneliti, Claudine Salmon, ketika berada di Jawa. Demikian juga halnya yang di Köln, dibeli untuk perseorangan," ia menyampaikan.








Menurut Woro pula, hingga saat ini tidak ada niat pemerintah untuk mengumpulkan kembali dan membawa pulang naskah-naskah yang berada di luar. "Kalau menurut saya mungkin baik juga tidak usah dibawa balik, di Indonesia kita tidak bisa merawat," tukasnya beropini.

FIB UI sendiri sekarang menyimpan 21 naskah China-Jawa. Menurut informasi yang didengarnya, di daerah Kediri dan Malang terdapat banyak peranakan Tionghoa yang masih menyimpan naskah peninggalan. Sayangnya harus dilakukan pendekatan terlebih dulu kepada mereka untuk mengetahui bagaimana nasib dari naskah-naskah itu.

Selain naskah, pusaka peninggalan orisinal China di Jawa lainnya adalah tombak, lukisan, guci, keramik, serta koin. Jika menelusuri kelenteng di Jawa, dengan mudah akan menemukan pusaka-pusaka tersebut. Di samping itu banyak pula peninggalan yang sudah merupakan hasil akulturasi, seperti wayang dan kain batik.
(nationalgeographic)

Tempat pengamatan bintang tertua, Cheomseongdeo

Cheomseongdae tercatat dalam sejarah sebagai peninggalan Dinasti Shilla di awal abad 7. Terletak di kota Gyeongju, Korea Selatan, Cheomseongdae merupakan tempat pengamatan bintang (observatorium) tertua sekaligus satu dari sedikit observatorium kuno yang tersisa di dunia sampai hari ini. Buku Rekor Dunia resmi mencantumkannya sebagai bangunan observatorium tertua yang masih tegak berdiri.

Bangunan yang terbuat dari batu itu dibangun pada masa pemerintahan Ratu Seondeok dan bangunannya yang masih berdiri sampai sekarang, menjadi warisan kebudayaan bangsa Korea dan salah satu objek wisata menarik di Korea Selatan.

Konstruksi Cheomseongdae diduga sengaja didesain sedemikian rupa berdasarkan filosofi-filosofi khusus. Pada bagian alasnya yang tersusun atas 12 balok batu, serta 12 tingkat pada tangga pintu masuk dan 12 lapis di bagian bawah jendela nampaknya melambangkan kedua belas bulan dalam tahun. Jumlah batu untuk menyusun menara utama yang 365 buah menandakan jumlah hari dalam satu tahun masehi.

Sebagian besar peneliti setuju akan status Cheomseongdae sebagai sebuah observatorium. Hal itu dikarenakan catatan-catatan sejarah di Korea, Jepang, dan Cina yang mendukung. Peneliti modern pertama yang meninjau Cheomseongdae, Tadashi Sekino, menyimpulkan bahwa Cheomseongdae adalah sebuah observatorium, walaupun strukturnya ganjil.







Kemudian seorang ahli meteorologi dari Jepang, Yuji Wada yang mulai mengadakan penelitian di lokasi Cheomseongdae tahun 1909 meyakinkan bahwa Cheomseongdae adalah observatorium. Pengamatan astronomi dilakukan dengan mata telanjang, dengan alat-alat seperti gnomon. Tentunya perhitungan-perhitungan khusus dilakukan dengan bantuan kalender.

Menurut penelitian pula, bangunan ini selama ratusan tahun dipakai para astronom kerajaan untuk mempelajari pergerakan bintang dan planet. Serta memperkirakan gerhana bulan dan matahari.

Kemudian setelah diinterpretasi, hasilnya dilaporkan pada raja atau ratu, untuk membantu mereka mengambil keputusan dalam upaya memperkuat otoritas kerajaan serta meningkatkan kualitas taraf kehidupan. Selain itu, Cheomseongdae dipercaya pula membantu menyingkapkan pemahaman rakyat, di zaman itu, mengenai surga dan kuasa ilahi. (Sumber: Korea Journal, Korea Travel Guide, International Council of Monuments and Sites)

(nationalgeographic)

Ada gen manusia purba dalam diri manusia modern

Tim riset internasional telah memetakan gen dari Neanderthal yang sudah lama punah dan membandingkannya dengan gen manusia modern. Mereka menemukan ada gen Neanderthal di dalam diri kita.

Laporan itu dipublikasikan oleh Journal Science setelah para 56 ilmuwan yang berasal dari seluruh dunia bekerja intensif selama lima tahun.

Proyek ini menggunakan sedikit bubuk tulang dari tiga Neanderthal wanita dari sebuah gua di Kroasia, yang telah meninggal 40.000 tahun yang lalu. Lalu mereka membandingkan gen tersebut dengan gen dari manusia sekarang yang tinggal di lima wilayah yang berbeda, Prancis, Papua Nugini, China, Afrika Selatan, dan Afrika Utara.

Kesimpulan dari penelitian itu adalah manusia modern memiliki 1 sampai 4  persen gen Neanderthal pada gen yang membawa kode protein. Gen-gen terebut telah memasuki garis keturunan manusia modern saat Neanderthal dan leluhur manusia meninggalkan Afrika 50.000 tahun yang lalu dan berlabuh di Timur Tengah, Eropa, dan Asia. Neanderthal punah sekitar 30.000 tahun yang lalu.








Genom lengkap dari neandhertal dan manusia modern, yang hidup terpisah selama 400.000 tahun itu, 99,5 persen serupa. Dengan demikian Neanderthal merupakan rekan evolusi terdekat manusia. Sebagai perbandingan, manusia dan simpanse memiliki 98 persen tingkat kemiripan pada gen mereka.

Peneliti mengatakan bahwa mereka telah melakukan analisis terhadap sekitar 60 persen atau 4 miliar DNA Neanderthal yang disebut dengan nucleotides. Walaupun belum selesai, Svante Pääbo, ahli genetika dari Jerman, mengatakan kepada wartawan, “60 persen sudah merupakan contoh statistik yang sangat memuaskan dari gen secara keseluruhan.”

meskipun demikian, “Dibutuhkan fakta yang kuat untuk membuktikan adanya kawin silang antara dua spesies purba tersebut,” kata Richard E. Green dari UC Santa Cruz yang juga terlibat dalam studi.
 (nationalgeographic)

Otak manusia terus menyusut

Otak manusia menyusut seiring perkembangan lingkungan sosialnya yang semakin kompleks.

Profesor David Geary, psikolog dari University of Missoury bersama koleganya yang telah mempelajari evolusi ukuran tengkorak manusia berusia 1,9 juta sampai 10 ribu tahun lalu, menemukan bahwa ukuran otak menyusut sejalan dengan semakin meningkatnya kepadatan populasi.

Hipotesis yang mereka gunakan adalah semakin banyak manusia yang tinggal bersama secara berdekatan, maka semakin banyak pertukaran yang terjadi dalam kelompok, semakin rapi pembagian fungsi kerja, dan semakin kaya serta beragam interaksi diantara sesama manusia. "Saat masyarakat dengan tatanan sosial yang makin kompleks muncul, otak mengecil karena manusia tidak perlu sepintar sebelumnya untuk bertahan hidup," kata Geary seperti dikutip AFP.

Hipotesis Geary dan timnya itu sesuai dengan hasil penelitian yang mengungkapkan otak manusia menyusut selama 30 ribu tahun terakhir. Ukuran rata-rata otak manusia modern--Homo sapiens--menurun sekira 10 persen selama periode itu dari 1.500 menjadi 1.359 centimeter kubik, seukuran sebuah bola tenis. Pengukuran yang dilakukan dengan menggunakan tengkorak yang ditemukan di Eropa, Timur Tengah, dan Asia itu juga menemukan otak wanita yang lebih kecil dari rata-rata ukuran otak pria pun mengalami penysutan dalam jumlah yang sama.







Meski begitu, ahli antropologi tidak terlalu terkejut dengan fenomena penyusutan otak manusia. Pasalnya, menurut mereka, ukuran otak berkaitan erat dengan ukuran tubuh. Semakin besar dan kuat tubuh manusia, semakin besar ukuran otak untuk mengontrolnya.

Para antropolog merujuk pada manusia Neanderthal "sepupu" manusia modern yang tubuhnya jauh lebih besar, memiliki otak yang juga lebih besar. Begitu pula manusia Cro-Magnon -- yang membuat lukisan binatang besar di gua Lascaux 17 ribu tahun lalu -- yang tubuhnya lebih kuat dibandingkan pendahulunya. Menurut Geary, karakteristik itu memang diperlukan dalam menghadapi lingkungan yang penuh bahaya.

Namun penyusutan otak bukan berarti manusia modern lebih bodoh daripada leluhurnya. "Ini justru menunjukkan bahwa otak manusia modern berkembang dengan cara yang berbeda serta memiliki bentuk kecedasan yang lebih rumit," simpul Brian Hare, asisten profesor antropologi dari Dukue University. 

(nationalgeographic)

back to top