bitcoin

bitcoinker

Monday, November 1, 2010

Main Game Perang Tingkatkan Kemampuan untuk Ambil Keputusan


LONDON - Permainan video-game menembak melatih para pemainnya agar bisa membuat keputusan yang benar lebih cepat, menurut sebuah studi.

Para ilmuwan mengklaim bahwa bermain video-game action menghasilkan "sensitifitas tinggi" yang meningkatkan kemampuan, tidak hanya dalam video-game, namun juga kemampuan dalam kehidupan nyata seperti: menyetir, navigasi, mengikuti teman dalam kerumunan, membaca tulisan yang kecil, seperti yang dikutip dari Press Association, Selasa (14/9/2010).

"Para pemain game action membuat keputusan benar lebih cepat. Apabila anda adalah seorang dokter bedah atau sedang berada di medan pertempuran, hal tersebut bisa membuat perbedaan yang besar," ujar Daphne Baveller, orang yang menulis penelitian tersebut di jurnal Current Biology.





Sebuah kelompok yang terdiri dari gamer yang berumur 18 sampai 25 tahun dibagi dua oleh para ilmuwan dari University of Rochester, New York, dengan setengah bermain game Call Of Duty 2 selama 50 jam, dan setengahnya lagi bermain game The Sims 2 selama 50 jam. Masing-masing partisipan diberi beberapa tes. Hasilnya, grup pertama (yang memainkan game Call Of Duty 2) menjadi 25 persen lebih cepat dalam mengambil keputusan.

Otak mengakumulasi bagian kecil dari informasi audio dan visual, sampai menampung informasi yang cukup untuk membuat keputusan: "apa yang harus dilakukan?"

Penelitian tersebut, nampaknya akan menyenangkan para gamer, yang sering dibilang bahwa bermain video-game adalah perbuatan yang buang-buang waktu saja.
(okezone)

Asteroid Bawa Air ke Bumi?


LONDON - Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa kemungkinan air beku yang terkandung dalam asteroid merupakan salah satu sumber yang membawa air ke bumi.

Air es dan molekul organik yang membantu membentuk dasar kehidupan, telah ditemukan pada asteroid kedua, yang bernama 65 Cybele, oleh para ahli astronomi. Demikian seperti yang dikutip dari Telegraph, Senin (11/10/2010).

"Penemuan ini mengungkapkan bahwa tata surya kita mengandung lebih banyak air es dari dugaan sebelumnya," ujar Professor Humberto Campins, seorang ahli astronomi dari University of Central Florida, yang memimpin penelitian ini.

Penemuan ini dilaporkan pada sebuah pertemuan di Pasadena, di mana para ilmuwan mengatakan bahwa adanya es di asteroid mendukung teori bahwa kehidupan di Bumi berasal dari luar angkasa, yang mana mungkin dibawa oleh asteroid.





Para ilmuwan juga mendapat temuan yang sama pada bulan April tahun ini, ketika mereka menemukan bukti pertama es pada sebuah asteroid yang bernama 24 Themis. Asteroid-asteroid temuan mereka ini berada di sabuk asteroid antara planet Mars dan Jupiter.

"Penemuan ini mendukung teori bahwa asteroid mungkin telah mengenai Bumi dan membawa air dan yang membentuk dasar-dasar kehidupan," kata Professor Campins pada presentasinya pada pertemuan rutin American Astronomical Society's Division for Planetary Sciences di Pasadena, California.

Asteroid 65 Cybele lebih besar 24 kali dari Themis, dengan diameter 180 mil. Sementara asteroid Themis diameternya 124 mil.
(okezone)

Pinguin Purba Berwarna Mencolok


WASHINGTON - Sebuah fosil pinguin dari Peru yang berusia 36 juta tahun, menunjukkan bahwa bulu dari burung tersebut berwarna oranye dan abu-abu, tidak seperti warna pinguin jaman sekarang yang berwarna hitam-putih, demikian laporan dari para ilmuwan.

Spesies dari pinguin purba tersebut bernama Inkayacu Paracasesnsis atau 'Raja Air'. Pinguin purba tersebut tingginya sekitar 1,5 meter atau sekitar dua kali ukuran dari pinguin Emperor; pinguin terbesar jaman sekarang. Demikian seperti yang dikutip dari AFP, Sabtu (2/10/2010).

"Sebelum penemuan fosil ini, kita tidak punya bukti mengenai bulu, warna dan bentuk sayap pinguin purba. Kita memiliki banyak pertanyaan dan ini adalah kesempatan pertama kita untuk mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut," kata Julia Clarke, paleontolog dari University of Texas di Austin.
Berdasarkan sayap dan cetakan bulu pada fosil pinguin tersebut, menunjukkan bahwa adalah Inkayacu Paracasesnsis penyelam yang hebat.





"Sementara warna bulu yang mencolok pada pinguin purba tersebut mungkin dapat menjelaskan ekologi dan perilaku mereka saat itu," ujar Jakob Vinther dari Yale University.

"Tapi secara keseluruhan, sangatlah asyik untuk bisa tahu warna bulu dari pinguin purba raksasa ini," tambah Vinther.

Untuk mendeteksi warna dari pinguin ini, para ilmuwan mempelajari ukuran dan bentuk dari melanosome; sel biologis yang menghasilkan pigmen. Mereka membandingkan melanosom yang diambil dari fosil dengan arsip-arsip di laboratorium mereka tentang burung-burung jaman sekarang yang masih hidup, untuk merekonstruksi warna bulu dari fosil pinguin purba tersebut.
(okezone)

Mengapa Nyamuk Suka Darah Manusia?


WASHINGTON - Ahli kimia ekologi Walter Leal mengadakan uji coba untuk mengetahui penyebab nyamuk gemar akan darah manusia.

Pada percobaan ini, Leal dan timnya mencari tahu apakah manusia menghasilkan bau tubuh tertentu yang bisa menarik perhatian nyamuk. Rupanya, penyebab utama nyamuk tertarik pada manusia terletak pada zat bernama nonanal.

Nonanal merupakan zat yang diproduksi tubuh manusia dan burung dan mengeluarkan aroma cukup kuat untuk menarik perhatian nyamuk Culex.

Leal kemudian mengukur kadar nonanal pada tubuhnya sendiri. Pengukuran kadar nonanal dilakukan dengan cara menyuntikkan alat seperti suntikan pada kulit lengannya. Setelah itu lengan Leal dibungkus dengan aluminum foil untuk mengisolasinya dari lingkungan. Satu jam kemudian, ujung suntikan diinjeksikan ke dalam sebuah perangkat khusus guna melihat seberapa besar kadar nonanal yang diproduksi tubuh Leal.





"Kadar nonanal dalam tubuh saya cukup banyak. Saya melepaskan sekira 20 nanogram nonanal setiap jamnya dan itu termasuk cukup tinggi," kata Leal seperti dikutip dari Live Science, Senin (25/1/2010).

Menurut Leal, hasil ini menjelaskan pengalamannya ketika berkunjung ke Meksiko dua tahun lalu. Saat itu dia menjadi sasaran empuk nyamuk meskipun telah melakukan berbagai pencegahan untuk menghalau mereka.

"Ada banyak sekali nyamuk di sana. Agar tidak digigit, saya menyemprotkan anti nyamuk di seluruh bagian tubuh saya, termasuk rambut," kata Leal.

Dia sangat terkejut karena semprotan anti nyamuk dan pakaian tebal yang menutupi seluruh tubuhnya tak mampu menghalau serangan nyamuk. Makhluk penghisap darah tersebut tetap bisa menggigitnya, hingga menembus kaus kaki dan baju yang tebal.

"Nyamuk bahkan bisa menembus bahan jeans selama mereka tahu, terdapat pembuluh darah di balik pakaian yang dikenakan. Mereka bisa merasakan hawa panas dari tubuh manusia," tandasnya.
(okezone)

Lebah Mampu Deteksi Bom


LONDON - Sejak lama, lebah diperkirakan memiliki kemampuan yang sama hebatnya dengan anjing pelacak. Namun hal itu berlaku hanya jika mereka benar-benar dilatih untuk melakukannya.

Kini, konsorsium perusahaan teknologi di Inggris merasa telah menemukan jawaban yang tepat. Hasil penelitian mereka menyebutkan, jenis lebah 'hotel' dapat diubah dari serangga biasa menjadi serangga pelacak yang sesungguhnya.

New Scientist
, Rabu (24/3/2010) melansir, lebah memiliki kemampuan penciuman yang sangat baik dan bisa mencium keberadaan bom atau bahan peledak lainnya. Sayangnya, perlu waktu beberapa jam mengarahkan lebah untuk melaksanakan tugasnya.

Itu sebabnya, perusahaan teknologi bio asal Inggris Inscentinel, bekerjasama dengan ML Electronics dan Realise Product Design mengembangkan sebuah gadget yang dapat melatih sekelompok lebah sekaligus, untuk menjadi serangga pelacak.

Setiap kelompok lebah diberi paparan berbagai bau yang berbeda, dan diberi penghargaan berupa tetesan sirup ketika mereka berhasil menemukan target yang tengah dicari. Selama beberapa jam, kelompok lebah-lebah tersebut belajar berasosiasi dengan penghargaan yang akan mereka dapat saat berhasil menemukan sumber bau.





"Jika lebah mencium sesuatu, mereka sudah terlatih untuk mendeteksinya," kata Andrew Redman dari Realise.

Gerak refleks yang ditujukan lebah ini, atau yang disebut dengan refleks Pavlovian, dapat terdeteksi menggunakan sinar inframerah yang muncul pada kepala lebah.

Sekali dilatih, mereka ditempatkan dalam sebuah pendeteksi bau bernama VASOR (Volatile Analysis by Specific Olfactory Recognition), yang mengelompokkan lebah dalam kompartemen individu.

"Namun sebagaimana lebah pada umumnya, mereka biasanya hanya bisa menghabiskan  waktu tak lebih dari dua hari untuk melakukan tugas pendeteksian. Setelah itu, mereka akan kembali kehidupan asal mereka di alam bebas dan sarang lebah," ujar Redman.
(okezone)

Ahli Astronomi Temukan Galaksi Tertua


WASHINGTON - Para ahli astronomi percaya bahwa mereka telah menemukan galaksi tertua yang sudah ada sejak awal alam semesta tercipta.

Sebuah foto dari Hubble Space Telescope yang dirilis awal tahun ini memperlihatkan sebuah cahaya kecil. Para ahli astronomi Eropa mengkalkulasikannya sebagai sebuah galaksi yang tercipta sejak 13,1 miliar tahun lalu, tepatnya ketika alam semesta masih berusia sangat muda, yakni masih sekira 600 juta tahun. Penemuan ini membuatnya sebagai galaksi paling awal dan paling jauh yang pernah ditemukan untuk saat ini. Demikian seperti yang dikutip dari Associated Press, Kamis (21/10/2010).

"Saat ini galaksi tersebut mungkin sudah begitu tua, yang mungkin kini sudah bergabung dengan galaksi terdekatnya," ujar Matthew Lehnert dari Paris Observatory, pimpinan studi tersebut.

"Kini kami sedang mencari sebuah galaksi dengan perumpamaan berusia 20 tahun dari masa hidupnya," ujar Richard Ellis, profesor astronomi dari California Institute of Technology. "Untuk ukuran manusia, kami sedang mencari seorang anak berusia empat tahun dari masa hidupnya," tambah Ellis.





Ada juga beberapa klaim berbeda dan pertanyaan mengenai usia dari galaksi terjauh tersebut. Tapi untuk opini-opini skeptis mengenai penemuan ini pun tetap menarik untuk diikuti. Para ahli astronomi Eropa mengkalkulasi usia dari galaksi tersebut setelah melakukan observasi selama 16 jam dari sebuah teleskop di Cile.

Awal tahun ini, para ahli astronomi telah membuat estimasi 600 sampai 800 juta tahun setelah terjadinya Big Bang untuk galaksi yang baru ditemukan tersebut.

Pada awal penelitian, para ilmuwan fokus pada galaksi tersebut dengan menggunakan metode analisis tanda cahaya hidrogen untuk mendeteksi usia galaksi. Garth Ilingworth dari University of California mengatakan bahwa gambar-gambar dari Teleskop Hubble menyediakan jalan untuk mendeteksi usia galaksi tersebut, dengan menggunakan metode yang berbeda.

Galaksi yang baru ditemukan itu belum memiliki nama, baru hanya beberapa seri angka dan huruf. "Karena membutuhkan waktu dan jarak yang lama bagi cahaya gravitasi tersebut untuk sampai ke Bumi, para ahli astronomi kini melihat sebuah galaksi dengan pandangan visual yang sama seperti 13,1 miliar tahun yang lalu ketika galaksi ini masih berusia muda. Galaksi ini memiliki jumlah karbon yang sangat sedikit jika dibandingkan dengan apa yang kita lihat di bintang-bintang dewasa. Selain itu galaksi ini juga memiliki banyak bintang yang berusia muda," ujar Lenhert.

Hal yang paling menarik bagi para ahli astronomi tersebut adalah teori-teori mengenai kapan bintang-bintang pertama dan galaksi itu lahir.

"Kini kita semua dalam 100 juta tahun melihat salah satu objek paling awal yang ada di alam semesta ini. 100 juta tahun untuk manusia mungkin adalah waktu yang sangat lama tapi dalam periode waktu astronomi, waktu tersebut sangatlah sedikit," tutup Ellis.
(okezone)

back to top