bitcoin

bitcoinker

Monday, September 6, 2010

Selektif Memilih Susu Kemasan

Kita mengenal istilah "empat sehat lima sempurna". Penyempurnanya adalah susu. Istilah ini tidak berlebihan karena susu memiliki kandungan nutrisi yang bermanfaat untuk pemenuhan gizi seimbang bagi tubuh.

 

Meski istilah itu begitu populer, konsumsi susu masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Masyarakat sepertinya juga tidak terlalu tergugah dengan hadirnya beragam produk susu kemasan di pasaran.

Bagi mereka yang terbiasa mengonsumsi susu kemasan, disarankan memilih produk yang melalui sistem sterilisasi Ultra High Temperature (UHT). Sistem ini diyakini mampu meminimalisasi tingkat kerusakan mutu dan gizi susu segar, tanpa perlu bahan pengawet atau pendinginan. Tapi sebagai konsumen, kita harus cermat memilih susu segar dalam kemasan.




"Jangan sampai kemasan itu rusak sehingga mempengaruhi kandungan dan manfaat gizi di dalamnya,” kata Direktur Southeast Asian Food, Agricultural Science & Technology (Seafast), Purwiyatno Hariyadi, Ph.D saat ditemui di acara bertajuk "Hanya Susu Segar Untukku", di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, Selasa 29 Juni 2010.

Ia pun membagi tips memilik produk susu kemasan yang baik. Pertama, perhatikan cara penyimpanannya, karena hampir 70 persen susu segar dikemas dalam bungkus berbahan kardus. Kebanyakan pedagang asongan, selalu meletakkan atau merendamnya di dalam air es. "Ini bisa merusak kemasan. Jika sobek kemasannya lebih baik jangan dibeli,” katanya.

Kedua, lebih baik pilih susu segar yang tak disimpan di almari pendingin. Sebagian besar susu yang dikemas dalam kardus telah melalui sistem sterilisasi UHT. Proses pendinginan bisa mengurangi rasa dan manfaat gizinya.

Ketiga, perhatikan komposisi nutrisi fact-nya demi menjamin mutu dan kualitasnya. "Yang utama dalam mengonsumsi sesuatu adalah harus diperhatikan keamanannya baik dari segi kemasan maupun kandungan gizinya," ujarnya.

Berdasar data Tetra Pak Indonesia 2010, konsumsi susu di Indonesia hanya 11,9 liter per kapita per tahun. Sangat rendah dibandingkan negara-negara Asia lainnya seperti India yang mencapai 42, 8 liter per kapita per tahun, Malaysia dan Filipina 22, 1 liter per kapita per tahun, Thailand 31,7 liter per kapita per tahun, atau  Vietnam 12,1 liter per kapita per tahun.










0 comments:

Post a Comment

back to top